Pulau Mansinam difoto dari Manokwari  
M A N S I N A M share:
Share http://mansinam.com on Facebook Share http://mansinam.com on twitter
Munculnya Terang Di Tanah Papua
Home | Tentang kami | Buku Tamu |
Sejarah | Berita | Peta Situs | Download |
A L K I T A B


Pasal
Ayat


LAGU ROHANI
Kidung Jemaat
Nyanyian Rohani
Mazmur
Seruling Mas
Suara Gembira
Lirik
Lirik & Chord

Jasa Pembuatan Website di Manokwari Hub. 081 248 03 4400

Materi Ibadah
Kesepuluh Firman
Hukum yang Terutama
Doa "Bapa Kami"
Pengakuan Iman Rasuli
 

GOSSNER DAN HELDRING, BAPAK-BAPAK ZENDING IRIAN BARAT.
3. Zendeling-tukang: "Kitab Nyanyian dan Kitab Suci sudah cukup"?

Zendeling-tukang: "Kitab Nyanyian dan Kitab Suci sudah cukup"?

"Gossner tidak mengerti mengapa pelajaran bahasa Latin dan Yunani dianggap perlu; baginya Kitab Suci dan Kitab Nyanyian Rohani sudahlah cukup. Gossner menganut prinsip bahwa seorang penginjil, kalau dia bukan seorang theolog, selain bakat-bakat alaminya cukuplah mempunyai hati yang bersemangat dan percaya, serta pengetahuan yang sempurna mengenai Alkitab".

Jadi maksudnya bukan berkata bahwa "Kitab Suci dan Kitab Nyanyian" saja sudah cukup. Ini tidak tepat, sebagai rumusan umum pun tidak. Gossner memang sungguh-sungguh bermaksud untuk mendapatkan calon-calon yang berpendidikan baik. Ini jelas terlihat pada kelompok pertama anak-anak muda yang menuntut pelajaran padanya. Sungguh menarik, bahwa Gossner senang kepada angka-angka yang bersifat klasik dan simbolik. Ia sekali-kali tidak mau mulai dengan pendidikannya, sebelum ia menemukan 12 orang anak muda yang ingin menjadi muridnya. Dan ternyata bahwa di antara ke-12 orang dari kelompok pertama ini terdapat seorang tamatan fakultas teologia serta beberapa orang guru dan mahasiswa. Oleh karena itu, Gossner sendiri hanya menangani soal-soal pokoknya. Sebagai garis pegangan dalam pendidikan ini digunakan saran-saran yang dikemukakan oleh ke-6 orang anak muda pertama tadi, dan garis pegangan ini kemudian dikukuhkan juga secara tertulis.

Di dalam sepucuk surat yang diterima oleh Gossner sebelum orang-orang muda itu datang menemuinya, Lehman, seorang teman Gossner, sudah menyebut-nyebut mereka. Ia menyifatkan mereka sebagai "anak-anak muda yang telah mengalami suatu kebangunan rohani". Lalu Lehman menulis sesuatu yang membuat Gossner berpikir, dan yang dikemudian hari dipraktekkan olehnya. Anak-anak muda itu menyatakan kesediaannya untuk diutus ke mana saja tenaga mereka diperlukan "dan bersedia untuk misalnya diutus oleh salah satu lembaga pekabaran Injil sebagai pembantu orang lain. Mereka pun berkeinginan untuk tetap melakukan pekerjaan mereka sesuai dengan bidangnya; untuk mempersiapkan diri, mereka akan mencari seorang guru bagi pelajaran yang paling pokok saja. Selanjutnya mereka lebih menekankan bekerjanya Roh Kudus daripada pengetahuan yang mereka peroleh, sekalipun ini pun tidak mereka remehkan. Dalam hal-hal ini mereka memang segaris betul dengan pemikiran Gossner.

Gossner tidak bermaksud untuk mendirikan suatu lembaga pekabaran Injil tersendiri dan memilih daerah pekerjaan sendiri. Dengan ketat ia menuruti garis-garis pegangan yang telah disarankan oleh ke-6 orang anak muda tersebut. Demikianlah, Gossner telah bekerjasama dengan Dr. Lang, seorang Skotlandia, di Australia; dengan Start, seorang Inggris beraliran Quaker, di India; dan dengan Heldring, seorang Belanda, di Hindia Belanda (Indonesia). Barulah setelah pekerjaan di India di tengah orang-orang Kol (yang sekarang disebut Adivasi) begitu berkembang, sehingga lebih banyak lagi diminta perhatian dari gereja induk, maka terbentuklah "Gossnersche Missionsgesellschaft" (Lembaga Zending Gossner). Dan ini pun bukan "tanpa perlawanan yang keras sekali dari Gossner sendiri" dan "sebagai akibat perkembangan di lapangan zending sendiri". 1)

Setelah Gossner mengutus anak-anak mudanya, dengan segera ia pun menemukan bahwa untuk menyebarkan Injil secara bertanggung-jawab dalam situasi kebudayaan yang berbedabeda, diperlukan lebih banyak pengetahuan daripada sekedar Kitab Suci dan Kitab Nyanyian. Maka dalam tahun 1842 ditetapkanlah suatu Anggaran Dasar, yang di dalamnya dirancangkan beberapa garis pegangan. Di dalamnya saran-saran asli dari ke-6 orang anak muda itu masih dapat dikenali, tetapi telah ditentukan pula persyaratan yang lebih berat. Yang menarik ialah bahwa perhatian utama diberikan kepada keadaan rohani calon zendeling itu. Kita kutip dari: "Anggaran Dasar Lembaga Zending Injili untuk Penyebaran Agama Kristen di antara Penduduk Bumiputera Negeri-Negeri Kafir" (7 Juni 1842). Di dalam anggaran dasar itu dicantumkan apa yang telah ditulis di atas itu (yaitu mengenai sifat pendidikan, tujuannya, yakni mendidik tukangtukang dan sebagainya menjadi zendeling melalui pelajaran guruguru tertentu), lalu menyusullah peraturan-peraturan tentang penerimaan para calon:

"Dalam memilih para anak didik dan utusan-utusan, terutama sekali harus diperhatikan:

  1. bahwa mereka betul-betul telah mengalami kebangunan rohani, mempunyai iman yang hidup, terlatih dalam kehidupan beriman dan dalam pengabdian kepada Tuhan, dan hanya terdorong oleh kasih Kristus dan oleh semangat batin yang sejati.
  2. bahwa mereka mempunyai pembawaan dan bakat-bakat yang khusus, sehingga mereka sanggup membina dirinya sendiri dan berkembang terus-menerus.

Syarat-syarat sub 1 bersifat sedemikian rupa, hingga seorang calon yang jujur sebenarnya tidak dapat menyatakan sudah raemenuhinya. Siapakah yang bisa raenyatakan dirinya dianugerahi jiwa yang demikian itu? Karena itu menjadi tugas dari salah seorang tokoh pemimpinlah untuk meneliti, apakah para calon itu memenuhi persyaratan tersebut. Ini merupakan hal yang serius, di mana doa dan pengenalan akan diri sendiri diutamakan. Kadangkadang dilakukan seleksi yang ketat sekali.

Apa yang ditentukan pada sub 2 itu kemudian diuraikan secara lebih jelas. Sekiranya di daerah zending yang akan dipilih tidak ada tenaga yang bisa memberi bimbingan, maka akan diambil kebijaksanaan lain:

"Dengan ini tidak ditutup kemungkinan, bahwa juga mereka yang berpendidikan ilmiah, yaitu yang dinamakan orang-orang terpelajar, tamatan fakultas theologia dan guru sekolah, yang mendaftarkan diri dan yang mempunyai pengetahuan ilmiah maupun kesalehan yang sungguh-sungguh, diterima dan turut diutus, untuk menggantikan kekurangan orang-orang yang tidak berpendidikan dan untuk memimpin usaha dalam keseluruhannya".

Ditetapkan juga pasal mengenai daerah yang belum ditempati, yang di kemudian hari mempunyai arti bagi Irian Barat: para calon harus "mengisi kekosongan, atau bahkan juga membuka pos-pos pekabaran Injil sendiri di daerah orang-orang kafir".

Sumber: "AJAIB DI MATA KITA" Oleh: Dr. F.C. Kamma

Selanjutnya >>:
GOSSNER DAN HELDRING, BAPAK-BAPAK ZENDING IRIAN BARAT.
4. Beberapa catatan mengenai metode pekabaran Injil yang dipakai oleh utusan-utusan Gossner


Sebelumnya <<:
GOSSNER DAN HELDRING, BAPAK-BAPAK ZENDING IRIAN BARAT.
2. Zending: "Usaha yang paling diberkati dan yang paling memberikan rasa sukacita". (Gossner)

Kembali Ke Daftar Berita
Kembali Ke Daftar Sejarah

Memasukkan Berita


Anda dapat memasukkan berita, tapi berita akan tampil setelah di sensor oleh admin.
Jika tulisan anda mengutip dari suatu sumber, harap dituliskan sumbernya!Anda dapat memasukkan berita, tapi berita akan tampil setelah di sensor oleh admin.
Jika tulisan anda mengutip dari suatu sumber, harap dituliskan sumbernya!

Judul :
Berita :
Nama : * Harap Masukkan Nama Anda
   
Ke Atas
 
TOKOH
Johann G Geissler
Johann G Geissler

Carl W. Ottow
G. Jaesrich

Follow pulau_mansinam on Twitter Pulau Mansinam on facebook

Foto-foto Sejarah

Denah Mansinam
  Tampilan Terbaik:
Resolusi 1024 x 768